Perempuan berkalung surban (Woman with a turban)
Monday January 26th 2009, 11:56 pm
Filed under: !Mixed!

Jombang, 1985. Terkisah seorang gadis kecil putri kyai pemilik Ponpes Al-Huda, mulai beranjak remaja, dengan pemikiran terbuka dan keingintahuan yang besar terhadap dunia. Mencoba melawan tradisi bahwasanya wanita mendapat pahala karena diamnya. Bahwasanya wanita harus melayani laki-laki tanpa gugat sedikitpun. Anisa kecil, hidup sebagai anak yang tidak puas terhadap lingkungannya.

Anisa kecil memaksa belajar berkuda, karena Aisyah juga berkuda, begitu juga putri Budur. Anisa kecil kerap bertanya mengenai keseimbangan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan. Anisa kecil menuntut keadilan. Kesemuanya membuat geram ayahnya. Putri Kyai tidak boleh bertingkah kelaki-lakian, tidak boleh kasar, tidak boleh melawan.. Anisa kecil merasa Islam tidak adil terhadap perempuan, sangat tidak adil. Dunia perempuan hanya dapur dan kasur saja. Sesempit itukah??

KISAH CINTA—Anisa kecil sangat dekat dengan pamannya, seorang laki-laki yang hampir seumuran dengannya. Dialah satu-satunya yang mendukung dan mengertikan keinginan Anisa kecil. Teman berkuda, teman berbagi duka.. Laki-laki itulah kebahagiaannya.. di antara merekapun timbul kasih sayang..

PERPISAHAN—Paman laki-laki yang biasa dipanggil ‘Lek’ itu harus pergi untuk menuntut ilmu jauh di Kairo. Itulah awal hari-hari sepi Anisa…

7 tahun kemudian, masih dengan ketidakpuasan terhadap apa yang didapatnya di ponpes, anisa remaja memutuskan melanjutkan kuliah di Jogja..untuk mengecap kebebasan, untuk melihat dunia luar..Tapi itu semua hanya mimpi, seorang perempuan tidak boleh pergi jauh dari rumah tanpa muhrimnya kan???

MIMPI BURUK—Tak disangka, bukan hanya mimpinya akan bangku kuliah yang pupus, Anisa remaja malah dinikahkan dengan putra Kyai sahabat ayahnya. Anisa tidak rela, Anisa hanya ingin kuliah dan kalaupun menikah, bukan dengan dia..

Tapi Anisa lebih sayang keluarganya, toh laki-laki itu belum bercela untuknya. Dia putra kyai, sahabat ayahnya, seorang sarjana, adakah alasan menolaknya??? Sesungguhnya ada, karena Anisa menyayangi seseorang.. yang hadir dan ada dalam mimpi pernikahannya..

Akhirnya pernikahan itupun terjadi..mimpi kuliah hilang sudah karena pria itu benar-benar jauh dari harapannya..harapan yang dipaksakannya ada..pria itu cuma seorang lelaki jahat berkedok dalil Islam..pulang ke rumah 3-4 hari sekali, itupun dalam keadaan mabuk..pulangpun bukan untuk apa, hanya untuk tubuhnya..laki-laki hiper yang entah kenapa takdir menyatukan Anisa dengannya..laki-laki kasar yang hanya bisa mengumpat dan memaksa..biru lebam sudah biasa, perih luka makanan sehari-hari baginya…

Sampai suatu saat, Anisa berontak dengan keadaannya. Diyakinkan hatinya ketika seorang wanita datang dengan perut buncitnya. Hasil perbuatan laki-laki yang dipanggilnya suami..Lengkap sudah, Anisa memaksa pulang ke ponpes..lari dari rumahnya yang bagaikan neraka..

CLBK—Kenangan lama bersemi lagi, ‘Lek’ kesayangannya tanpa disangka pulang ke Indonesia..Menangis hatinya, benci dirasa.. ‘kenapa pergi saat aku meminta jangan pergi?? Putus jalanku saat kamu meninggalkan aku..’ Lewat surat yang sampai padanya, Anisa dan Lek bertemu di sebuah tempat sunyi..mencurahkan isi hati..mengungkapkan yang belum sempat terucap..Tapi…

Anisa lupa diri, sempitnya hati menggelapkan matanya.. Syetan membujuknya mengambil jalan pintas menyelesaikan masalahnya. ZINA, itu pilihannya. Beruntung Lek adalah laki-laki yang takwa..dia berusaha menenangkan Anisa dan memberi jalan lain..Sayang semua terlambat, suami Anisa dan anak buahnya keburu datang memfitnah mereka..mereka diseret paksa dan dihukum lempar batu oleh penghuni ponpes..saat itulah ayahnya syok dan meninggal seketika itu juga..dan Anisa diceraikan oleh suaminya..

MERAIH MIMPI—Setelah itu, hari-hari Anisa dilewatkan dengan berkuliah di Jogja. Melanjutkan mimpi yang tertunda..menyibukkan diri sebagai penulis lepas dan konselor perceraian di woman crisis center..kehidupan baru yang melupakannya dari perih masa lalunya..

PERTEMUAN—Yang tak terduga, Lek menyusulnya ke Jogja. Dia mengajar di sebuah Universitas..dan juga untuk menikahi Anisa..Anisa yang masih menyimpan luka menolak mentah-mentah maksud baik itu. Anisa takut ditinggalkan untuk kedua kali. ‘Cukup sekali saat kamu pergi ke Kairo, aku terluka..’

SEORANG PEREMPUAN MUNGKIN TIDAK MAU BERKALANG DI KETIAK LAKI-LAKI, TAPI BAGAIMANAPUN PEREMPUAN BUTUH LAKI-LAKI UNTUK DICINTAI..

Kalimat itu menggetarkan Anisa dan membujuknya untuk menerima pinangan Lek..apalagi dalam mimpinya, Ayah yang telah tiada datang memberikan restunya..mimpi pernikahan itu terwujud..Kehidupan indah dilalui dengan Lek yang sangat santun dan perhatian..yang memperlakukan istrinya dengan arif dan sabar..traumatik Anisa terhadap kehidupan masa lalunya dihadapi Lek dengan sangat bijak..sampai masa membahagiakan itu datang..dalam rahim Anisa tumbuh janin buah hati mereka..

PULANG—Keadaan itu memaksa Anisa pulang ke ponpes, karena dalam rahimnya ada kelainan yang menyebabkan Anisa harus ekstra menjaga keadaannya..sungguh Anisa trauma kembali ke lingkungan itu..tapi dengan tekadnya, dia memaksa diri untuk pulang, dengan membawa harapan, dia bisa membawa perubahan di ponpes itu.

Memang bukan perjuangan yang mudah, dengan berbekal buku-buku dari Jogja, dia berusaha membuka wawasan putri-putri ponpes akan dunia luar. Dia tidak mau perempuan-perempuan itu mengalami apa yang dia rasa..Wanita harus diberi keadilan, bukan berarti pemberontakan, tapi posisi yang layak dan seimbang..

Perbuatan Anisa dianggap membahayakan oleh Ponpes, karenanya terjadi razia dan pembakaran buku-buku Anisa..tapi dia tak gentar dengan perjuangannya. Perpustakaan untuk santri harus tetap ada..berbekal takwa dan dukungan suaminya yang juga mengajar di ponpes, Anisa tak henti memotivasi santri untuk ekspresif..mencurahkan pemikirannya, keluh kesah dan impiannya. Mereka diajarkan hak nature dan nurture, bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan itu berdampingan, bukan salah satu menjadi budak yang lainnya..

KEPERGIANNYA—Mimpi akan perubahan seakan sulit sekali diraih. Kepemimpinan kakak yang notabene masih kolot, mempersulit perjuangannya. Beruntung dia memiliki suami yang selalu meneguhkan hatinya..bahwasanya membangun rumah itu tidak bisa dalam sehari..bahwasanya berjuang itu tiada henti..keadaan tubuhnya yang sedang mengandung malah memperkuat Anisa untuk bertahan. Bahwasanya dia ingin menularkan semangat perjuangan ke anak dalam kandungannya. Hari itupun datang, buah hati nan lucu lahir di dunia..dalam semangatnya yang tak pernah pudar, dia membesarkan buah hati dalam lingkungan ponpes yang sedang dia perjuangkan perubahannya..tanpa lelah, tanpa pamrih..

Mantan suami yang dia benci ternyata masih berhubungan dengan ponpes milik keluarganya..Malahan ponpes berhutang banyak kepadanya..sampai suatu saat, dia ingin membeli Anisa sebagai ganti hutang ponpes..Keluarga Anisa meradang..Terjadi perkelahian menjaga kehormatan Anisa..

Anisa yang merasa tidak tenang dengan keberadaan mantan suami, meminta untuk kembali pulang ke Jogja…sang suami menuruti..Dia berangkat ke kota dengan pesan bahwasanya APAPUN YANG TERJADI, AKU AKAN SELALU BERSAMAMU..pesan singkat yang ternyata wasiat terakhir dari suami karena di perjalanan itu, sang suami dijemput malaikat maut dengan kecelakaan..

Hancur hati Anisa, apa yang ditakutkannya terjadi sudah. Dia ditinggalkan untuk kedua kalinya..Dia ingin menggugat, tapi kalimat-kalimat indah suami semasa hidupnya terus terngiang..bahwasanya ‘kamu bisa hidup tanpa aku..seorang muslimah tidak akan pernah merasa sepi..karena Allah lebih dekat dari nadi’..

Berbekal kenangan dan motivasi dari mendiang suami, Anisa terus berjuang hingga akhirnya sang kakak tidak bisa lagi mencegahnya..Tiada yang lebih baik dari apa yang diperjuangkan Anisa…dan karena Tuhan menunjukkan jalannya…

Ponpes berubah menjadi lebih baik, wawasan agama diberikan dari berbagai sudut pandang..Tidak ada lagi diskriminasi perempuan..Santri diberi wadah berekspresi sehingga mereka bisa mengembangkan kemampuannya…dan Anisapun hidup selamanya mengembangkan ponpes peninggalan ayahnya bersama keluarganya…

Maaf banget klo kurang touching n g sebagus filmnya..ternyata g mudah menceritakan kembali…maaf ya..mending nton juga filmnya biar lebih lega..thanks…





     
No Comments so far



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required)

(required)